Friday, January 11, 2013
Reformasi Akhlak Melalui Ibadah Haji
Agama islam adalah agama yang
mengajarkan akhlak mulia, norma-norma kemanusiaan dan keadilan. Ia menanamkan
pada jiwa setiap muslim, kewajiban untuk berbudi pekerti baik, bertindak dengan
bijak. Jikalau kita mengamati syariat agama kita ini, dari amalan yang paling
kecil hingga yang paling besar, niscaya kita akan sampai pada sebuah kesimpulan
bahwa setiap ajaran yang diajarkan, bertujuan mewujudkan kemuliaan akhlak dan
kesucian jiwa. Bahkan Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam telah menyatakan akan hakikat ini dengan jelas
dalam sabdanya:
إِنَّمَا بُعِثْتُ
لأُتَمِّمَ
مَكَارِمَ
الأَخْلاَق
“Sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak-akhlak mulia.” (HR. Ahmad)
Bila kita membaca siroh (perjalanan
hidup) beliau, niscaya akan kita dapatkan wujud nyata dari sabda beliau ini,
beliau benar-benar sebagai uswah paling bagus dalam menerapkan akhlak karimah.
Sebagai seorang hamba, beliau adalah hamba Allah yang paling mulia akhlaknya,
sebagai seorang pemimpin, beliau adalah pemimpin yang paling adil, bijak, dan
sabar, sebagai seorang suami, beliau adalah suami yang paling baik terhadap
istrinya.
Allah telah memberikan persaksian-Nya
akan hal ini dengan berfirman:
وإنَّكَ لَعَلَى
خُلُقٍ
عَظِيْمٍ
“Dan sungguh-sungguh engkau berbudi
pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)
Bila kita hendak menghitung satu
persatu akhlak beliau, niscaya kita akan menghadapi kesulitan, oleh karena itu
Aisyah memberikan gambaran yang sangat jelas akan akhlak beliau dengan
mengatakan:
كَانَ خُلُقُهُ
القُرْآن
“Akhlak beliau adalah Al Quran.”
Kalau kita mempelajari makna “akhlak”
lebih mendalam, dengan mengumpulkan dalil-dalil Al Quran dan As Sunnah yang
berhubungan dengan akhlak hasanah, maka kita akan dapatkan bahwa kata “akhlak”
memiliki kandungan makna yang sangat luas. Kita akan mendapatkan penjelasan
kewajiban berakhlak hasanah dengan Allah ‘azza wa jalla, berakhlak hasanah
dengan sesama manusia dengan berbagai macam bentuk dan keyakinan mereka,,
berakhlak hasanah dengan diri sendiri, dan berakhlak hasanah dengan makhluk
lain, seperti malaikat, jin, binatang dan lain sebagainya.
Inilah hakikat agama islam, yang tidak
diketahui oleh kebanyakan manusia, sehingga banyak dari mereka beranggapan,
bahwa agama islam identik dengan kekerasan, teroris, kaku, dll. Dan untuk lebih
jelasnya, mari kita renungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
أَكْمَلُ المُؤْمِنِيْنَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً
“Kaum
mukminin yang paling sempurna imannya, adalah orang yang paling baik
akhlaknya.”
(HR. Ahmad, Al Hakim dll)
Manasik Haji Cerminan Bagi Akhlak
Mulia
Haji
adalah salah satu rukun islam, haji adalah ibadah yang tergabung padanya antara
amalan badan dan pengorbanan harta, dan haji adalah salah satu ibadah yang
paling agung, yang memiliki kandungan makna, dan hikmah yang sangat luas lagi
mendalam. Para ulama menyatakan, bahwa haji adalah salah satu madrasah yang
sangat agung, untuk menggembleng keimanan seorang muslim.
وأَذِّن فِي النَّاسِ يَأْتُوكَ رِجَالاً وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُم وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ فِيْ أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِنْ بَهِيمَة الأَنْعَام
“Dan
kumandangkanlah ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan
berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru
yang jauh. Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka, dan agar
mereka menyebut Nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan, atas rezeki
yang telah Allah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al Haj:
27-28)
Ulama
mengomentari bahwa yang dimaksudkan dengan kata “menyaksikan manfaat” adalah
mendapatkannya, bukan sekedar melihat, akan tetapi mendapatkannya.
Ibnu
Abbas menafsiri kata (
مَنَافع ) ayat ini
dengan mengatakan: “Manfaat di dunia dan manfaat di akhirat, adapun manfaat di
akhirat adalah keridhoan Allah ‘azza wa jalla, dan manfaat di dunia adalah
mendapatkan pembagian daging korban, sesembelihan, dan perdagangan.” (Ad Durrul Mantsur
6/37)
Dan
Al Mujahid menafsirkan dengan berkata: “Manfaat adalah perdagangan dan setiap
hal yang menjadikan Allah ridho dari urusan dunia dan akhirat.” (Tafsir At Thobari
17/147)
Ibadah
haji bukan hanya sebuah rentetan amalan sakral yang tidak diketahui manfaat dan
hikmah dari pelaksanaannya. Akan tetapi ibadah haji –sebagaimana ibadah-ibadah
lainnya- penuh dengan maksud-maksud dan hikmah-hikmah yang sangat indah dan
besar. Kalau kita perhatikan fakta yang ada pada jamaah haji pada umumnya, dan
pada diri kita saat melaksanakan ibadah yang mulia ini, akan kita lihat
terjadinya perbedaan antara sesama mereka dalam mengambil hikmah, dan menyelami
kandungan makna ibadah ini.
Oleh
karena itu, sudah sepantasnyalah, bila setiap muslim memikirkan, dan memberikan
sebagian perhatiannya agar semakin banyak rahasia-rahasia, atau hikmah-hikmah
dari amalan-amalan ibadah ini, yang kita dapatkan
Sebagaimana
telah disebutkan dalam Muqaddimah, bahwa agama islam adalah agama akhlak, yang
menjadikan kesucian jiwa, atau yang sering disebut dengan akhlak –dengan
berbagai macamnya, sebagai tujuan dari setiap syariatnya. Dan kalau kita amati,
dan renungkan setiap amalan-amalan yang terdapat pada ibadah haji, niscaya
masing-masing amalan adalah bukti kuat akan kebenaran apa yang telah
diisyaratkan di atas.
Berikut
ini saya akan berusaha untuk sedikit memaparkan beberapa hikmah-hikmah dan
rahasia-rahasia yang terpendam dibalik amalan-amalan ibadah haji, dengan
harapan menjadi pilar bagi jamah haji Indonesia untuk lebih mendalami dan
menghayati akan makna-makna yang terkandung di dalamnya; sehingga amalan ibadah
mereka semakin baik dan semakin besar peluang untuk menjadi haji yang mabrur,
dan ibadah haji benar-benar dapat terwujud dalam kepribadian dan budi pekerti
setiap bapak dan ibu haji. Dan ulasan saya ini, akan saya urutkan sesuai dengan
urutan pembagian akhlak yang telah saya sebutkan pada awal makalah ini.
1.
Akhlak Dengan Allah
Ibadah
haji, dari amalan paling pertama, yaitu talbiyyah, hingga amalan paling akhir,
yaitu thawaf wada’, penuh dengan pendidikan akhlak dengan Allah, Sang Pencipta
‘azza wa jalla.
Ucapan Talbiyyah
لبيك اللهم لبيك، لبيك لا شريك لك لبيك، إن الحمد والنعمة لك والملك، لا شريك لك
“Kusambut panggilan-Mu, Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, karunia, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
“Kusambut panggilan-Mu, Ya Allah, kusambut panggilan-Mu, Kusambut panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, Kusambut panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, karunia, dan kekuasaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu.”
Talbiyyah
ini adalah puncak pengikraran iman dan tauhid, di mana hakikat iman dan tauhid
adalah pengagungan Allah dengan sebenar-benarnya. Pada talbiyyah ini, kita
mengikrarkan bahwa segala pujian, kenikmatan dengan berbagai macam dan
wujudnya, dan segala kekuasaan, termasuk ke dalamnya mengatur alam semesta ini,
hanya milik Allah, tiada satu pun yang menjadi sekutu bagi Allah dalam semua
hal-hal tersebut. Oleh karena itu sebagai kelaziman dari ikrar, kita hanya
bersyukur dengan menujukan segala macam ibadah kepada-Nya semata.
Dan
sikap yang demikian ini, merupakan puncak akhlak yang mulia dengan Allah, di
mana kita mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan, mengatur, dan hanya
Dia-lah yang berhak disembah. Untuk lebih mengetahui bahwa ucapan talbiyyah ini
adalah wujud nyata dari akhlak mulia dengan Allah, maka mari kita bandingkan
ucapan ini dengan talbiyyah orang-orang musyrikin pada zaman dahulu. Mereka
mengucapkan:
لَبَّيكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ إلاَّ شَرِيكاً هُوَ لَكَ، تَمْلِكُهُ وَمَا مَلَكَ
“Kusambut
panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang Engkau miliki, Engkau
menguasainya dan apa yang ia miliki.”
Betapa
rendahnya akhlak mereka kepada Allah, mereka mengakui bahwa sekutu yang mereka
sembah di bawah kekuasaan Allah, akan tetapi mereka tetap mendudukkannya
sejajar dengan Allah. Oleh karena itu Allah, berfirman tentang mereka:
وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ والأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُه يَومَ القِيَامَة والسَمَاواتُ مَطْوِيَّات بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشرِكُونَ
“Dan
mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya, padahal
bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari qiyamat, dan langit-langit
digulung dengan Tangan kanan-Nya. Maha Suci Allah, dan Maha Tinggi dari apa
yang mereka persekutukan.” (QS. Az Zumar: 67)
Thawaf
Setiba
jamaah haji di kota Mekkah, maka pertama yang dilakukan adalah bersuci, lalu
thawaf mengelilingi ka’bah. Thawaf adalah amalan yang sangat agung dan dicintai
Allah ta’ala:
وَعَهِدنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وإسمَاعيل أَنْ طَهِّرا بَيتِيَ للطَّائِفِين وَالعاكِفِين والرُكَّع السُّجود.
“Dan
telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Sucikanlah rumah-Ku untuk
orang-orang yang thawaf , yang I’tikaf, yang ruku’ dan sujud.” (QS Al
Baqoroh: 125)
Tatkala
seorang muslim menjalankan ibadah yang agung, niscaya ia akan mendapatkan
pelajaran penting, yaitu keyakinan bahwa ibadah thawaf, hanya ia lakukan di
ka’bah, sehingga ia tidak akan melakukannya di tempat lain, baik di kuburan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam atau kuburan wali.
Imam
An Nawawi berkata: “Tidak diperbolehkan untuk berthawaf mengelilingi kuburan
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan juga dimakruhkan untuk menempelkan punggung
atau perut kepada dinding kuburan beliau, … Dan tidak boleh kita terpengaruh
oleh pelanggaran dan perbuatan yang dilakukan oleh kebanyakan orang awam.
Karena sesungguhnya kita hanya mencontoh, dan mengamalkan apa yang disebutkan
dalam hadits yang shohih, dan yang disebutkan oleh para ulama. Dan tidak
sepantasnya kita menoleh kepada perbuatan-perbuatan dan sikap-sikap bodoh yang
mereka lakukan.”
Beliau
menukilkan ungkapan Al Fudlail bin ‘Iyadl: “Ikutilah jalan-jalan hidayah, dan
jangan engkau merasa takut karena sedikitnya penempuh jalan tersebut. Dan
hati-hatilah engkau dari jalan-jalan kesesatan, dan jangan terperdaya oleh
banyaknya penempuh jalan tersebut.” (Al
Majmu’ Syarah Al Muhazzab 8/203)
Dan
di antara amalan yang disunahkan dalam ibadah thawaf adalah mencium Hajar
Aswad. Sahabat Ibnu Umar radhiallahu
‘anhu mengisahkan: “Aku
melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala beliau tiba di
Mekkah, dan menjalankan thawaf pertama kali, beliau menyentuh Hajar Aswad, lalu
berlari-lari kecil sebanyak tiga kali putaran.” (HR. Bukhari dan
Muslim)
Demikianlah
disunahkan bagi setiap kaum muslimin untuk mencium Hajar Aswad, dalam rangka
mencontoh Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, dan menjalankan sunnah-sunnahnya, bukan karena
meyakini bahwa Hajar Aswad memiliki kekuasaan untuk memberi manfaat atau
memberi madharat, atau khasiat tertentu.
Oleh
karena itu Khalifah Umar bin Khatthab ketika mencium Hajar Aswad, beliau berkata: “Sungguh demi Allah aku
menyadari bahwa engkau adalah sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat atau
madharat, dan seandainya aku tidak melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari
dan Muslim)
Kemudian
yang disyariatkan untuk disentuh/diusap hanyalah Hajar Aswad dan Rukun Yamani,
selain keduanya, yaitu kedua Rukun Syami (kedua sudut Hijir Ismail) dan juga
tempat-tempat lainnya tidak diperbolehkan untuk diusap atau dicium, baik maqom
Ibrahim, kuburan Nabi, atau Wali, atau masjid, atau yang lainnya.
Imam
Ahmad meriwayatkan: bahwa suatu saat sahabat Muawiyah radhiallahu ‘anhu
sedang menjalankan thawaf bersama dengan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, dan ketika Muawiyah
melintasi kedua sudut Hijir Ismail, beliau mengusap keduanya, maka
sekonyong-konyong Ibnu Abbas menegurnya dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengusap kedua sudut ini.”
Imam
An Nawawi tatkala membahas adab berziarah kepada kuburan Nabi, beliau berkata:
“Dan dimakruhkan mengusap dinding kuburan, atau menciumnya, akan tetapi adab
yang benar adalah kita menjaga jarak dari kuburan, sebagaimana kita menjaga
jarak dari beliau, bila kita berhadapan dengannya semasa hidupnya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
dan inilah adab yang benar, yang dinyatakan oleh para ulama, dan mereka
bersepakat atasnya… Dan barang siapa yang terbetik dalam benaknya, bahwa
mengusap-usap dinding kuburan Nabi, atau yang serupa akan lebih mendapatkan
barokah, maka anggapan yang demikian ini adalah bagian dari kebodohan dan
kelalaiannya; karena keberkahan hanyalah didapatkan pada perbuatan yang sesuai
dengan syariat. Dan bagaimana mungkin keberuntungan bisa didapatkan dari sikap
menentang kebenaran.” (Al
Majmu’ Syarah Al Muhazzab 8/203)
Setelah
melaksanakan ibadah thawaf, orang yang menjalankan ibadah haji akan
berbondong-bondong menuju gunung Shafa dan Marwah, guna menjalankan ibadah sa’i
tujuh kali. Ibadah ini mengingatkan kita kepada kisah sebuah keluarga yang beriman
dan bertakwa kepada Allah, mereka menjalankan perintah Allah, dengan penuh
keimanan, yaitu keluarga Abul Anbiya’ Ibrahim ‘alaihi sallam.
Tatkala
Allah memerintahkan Nabi Ibrahim agar menempatkan istrinya Hajar dan anaknya
Ismail (yang kala itu masih menyusu), di Mekkah (yang dahulu bernamakan
pegunungan Faran), maka beliau menaati perintah ini. Beliau menempatkan
keduanya di atas sebuah batu besar, yang terletak diatas sumur zam-zam (kala
itu di tempat tersebut tidak ada air, juga tidak ada penghuninya). Lalu Nabi
Ibrahim hanya memberikan bekal untuk keduanya sekantung kurma, dan sebejana
air.
Kemudian
Nabi Ibrahim pergi meninggalkan keduanya, sehingga Hajar mengikutinya dari
belakang, dan berkata: “Wahai
Ibrahim, ke mana engkau akan pergi, apakah engkau akan tinggalkan kami di
lembah ini, yang tidak ada seorang manusia pun, juga tidak ada sesuatu.”
Ia mengulang-ulang perkataannya ini, akan tetapi Nabi Ibrahim tidak menoleh
sedikit pun.
Lalu
Hajar berkata: “Apakah
Allah yang memerintahkan engkau dengan hal ini?” maka Nabi Ibrahim menjawab:
Ya. Maka Hajar berkata: “Kalau demikian, Ia tidak akan menyia-siakan kami.”
(HR. Bukhari)
Ini
adalah sebuah gambaran bagi sebuah keluarga yang iman dan tawakal telah
tertanam dan menyatu dengan hati mereka, sehingga dalam keadaan seperti
disebut, Hajar yakin bahwa Allah pasti memberikan jalan keluar dari segala apa
yang akan ia hadapi. Ini adalah sebuah pelajaran penting yang seharusnya selalu
diingat-ingat oleh setiap orang yang sedang menjalankan ibadah ini, kemudian ia
jadikan kisah ini sebagai pilar dalam kehidupannya. Terutama pada di saat
menghadapi berbagai problema dalam kehidupan di dunia ini, tidak ada kata putus
asa, patah semangat, atau kecil hati.
Oleh
karena itu, setelah Nabi mengisahkan kisah perjuangan Hajar mencari air, dan
berlari-lari antara gunung Shafa dan Marwah, beliau bersabda:
فَذَلِكَ سَعَيُ النَّاسِ
“Itulah
kisah kenapa manusia bersa’i, (berlari).” (HR. Bukhari)
Wukuf Pada Hari Arafah
Hari
Arafah, adalah hari yang paling agung, hari yang padanya kaum muslimin dengan
jumlah yang sangat besar berkumpul di satu tempat, dengan pakaian yang sama,
amalan sama, tujuan sama. Hari yang padanya turun berbagai rahmat Allah, dan
diampunkan padanya dosa-dosa manusia, dan hari yang padanya pula Allah paling
banyak membebaskan manusia dari neraka. Pada hari ini pula Allah menyempurnakan
agama dan kenikmatan bagi umat ini:
اليَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُم دينكم وأتممتُ عليكمْ نعمتي ورضيت لكم الإسلام دينا
“Pada
hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al
Maaidah: 3)
Oleh
karena itu, pada hari ini setiap jamaah haji menunjukkan sikap tunduk,
merendahkan diri, banyak berdoa, menggantungkan segala harapannya hanya kepada
Allah ta’ala, banyak berzikir, berdoa, meninggalkan segala kegiatan selain
menghadapkan jiwa dan hatinya hanya kepada Allah; agar ia termasuk orang yang
dibebaskan dari neraka pada hari ini. Mari kita perhatikan bersama sabda Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini:
(خَيْرُ الدُّعَاء دُعَاءُ يَومَ عَرَفَةَ، وخَيْرَ مَا قُلْتُ أَنَا والنَّبيُّون مِنْ قَبْلِي: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيئٍ قَدِيْر).
“Sebaik-baik
doa adalah doa pada hari arafah, dan sebaik-baik doa yang aku dan para nabi
sebelumku ucapkan adalah doa: LA ILAHA ILLALLAHU WAHDAHU LA SYARIKA LAHU LAHUL
MULKU WALAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (Tiada sesembahan yang
benar kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah kekuasaan, dan
milik-Nyalah segala pujian, sedangkan Dia atas segala sesuatu Maha Kuasa).” (HR. Ahmad
dan At Tirmidzi)
Ini
adalah doa paling utama, yang diucapkan pada hari yang paling utama, hari yang
padanya disempurnakan agama kita ini, sehingga sangatlah sesuai bila pada hari
yang demikian agungnya, kita mengucapkan doa yang paling agung. Sungguh sebuah
akhlak seorang hamba yang sempurna, betapa tidak, pada hari yang paling agung,
beliau mengucapkan doa yang paling agung, yang bermaknakan: mengesakan Allah
dengan segala macam ibadah, dan berlepas diri dari segala macam bentuk
kesyirikan, dan sesembahan selain Allah.
Doa
ini adalah dasar dari agama ini, kunci untuk membuka pintu surga, dan dengan
kalimat inilah para rasul diutus, oleh karena itu hendaknya setiap jamaah haji
dianjurkan memperbanyak ucapan doa ini. Akan tetapi, adalah wajib hukumnya bagi
setiap muslim untuk mengetahui bahwa ucapan ini tidaklah akan diterima, bila
tidak disertai oleh penghayatan dan pengamalan makna dan kandungannya
Hal ini
sangat penting sekali, dikarenakan orang yang mengucapkan kalimat ini, kemudian
tanpa meyakini akan maknanya, maka ia disebut munafik, dan orang yang
mengucapkannya, akan tetapi amalannya bertentangan dengan makna kalimat ini,
maka ia adalah orang musyrik, termasuk di dalamnya orang yang mengucapkannya,
akan tetapi ia menujukan sebagian ibadah, seperti meminta rezeki, kesembuhan,
tawassul, istighotsah, pertolongan, tawakal, kepada selain Allah.
Di
antara akhlak yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam kepada umatnya dari amalan-amalan haji, adalah
sikap mencontoh sunnah-sunnah beliau dalam menjalankan ibadah agung ini. Beliau
telah menekankan akan kewajiban berpegang teguh dengan akhlak ini dalam sabda
beliau:
لِتَأخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لاَ أَدْرِي لَعَلَّي لاَ أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ
“Hendaknya
kalian mencontoh (dalam menunaikan) manasik kalian, karena sesungguhnya aku
tidak tahu, mungkin aku tidak berhaji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim)
Beribadah
kepada Allah dengan cara mencontoh sunnah-sunnah Rasulullah, adalah akhlak yang
wajib untuk dimiliki oleh setiap muslim, bukan hanya selama menjalankan ibadah
haji, akan tetapi untuk selama-lamanya.
Sebagai
seorang yang beriman kepada Allah, kita bukan hanya sekedar beribadah kepada
Allah, akan tetapi beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah ajarkan
melalui lisan Rasul-Nya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Al Quran:
يَا أَيُّهَا الَّذِين آمَنُوا لاَ تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ واتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيْم
“Wahai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan
bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.”
(QS. Al Hujuraat: 1)
Ayat
ini merupakan adab yang diajarkan oleh Allah kepada hamba-Nya kaum mukminin,
dalam bermuamalah dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu agar
mereka tidak berburu-buru dalam segala sesuatu dan mendahului kehendak beliau,
akan tetapi mereka diharuskan mengikuti perintah beliau dalam segala hal,
sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir
4/205)
Sahabat
Ibnu Abbas tatkala menafsiri ayat ini beliau mengatakan: “Janganlah kamu mendahului
Allah dan Rasul-Nya”, maksudnya adalah janganlah kalian mengatakan
sesuatu yang bertentangan dengan Al Kitab dan As Sunnah.
Oleh
karena itu adalah wajib hukumnya bagi setiap jamaah haji, untuk mencontoh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam menunaikan manasiknya, sebagaimana dinyatakan dalam hadits di atas, dan
ini adalah perwujudan dari akhlak, penghormatan dan pengagungan kita sebagai
seorang mukmin terhadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan hal ini
merupakan tolok ukur akan keimanan setiap muslim:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ
“Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi
dan mengampuni dosa-dosamu, sedangkan Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
(QS. Ali Imran: 31)
-bersambung
insya Allah-
***
Penulis:
Ustadz Muhammad Arifin Badri, M.A.
Labels: pendidikan
0 Comments:
Subscribe to:
Post Comments (Atom)





